Wednesday, October 22, 2014

Kebohongan Do'a Akhir & Awal Tahun


Do'a Setiap Bulan Vs Do'a Setiap Tahun :

Siapakah yang paling bersungguh-sungguh memperjuangkan amalan Bid'ah seperti membaca do'a awal tahun/akhir tahun, hingga sanggup berlari kelam-kabut kejar mrt, kejar bus, kerana takut terlepas sampai masjid sebelum Maghrib, sambil meremehkan amalan Sunnah seperti do'a setiap awal bulan ??

1. Jahil bin Degil
2. Ahli bin Bid'ah
3. Taklid bin Buta
4. Muka bin Tembok
5. Pak Pandir bin Jubah Sarban
6. All of the above

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kebohongan Do'a Awal/Akhir Tahun :

"Barangsiapa membacanya syaitan akan berkata :
Kami telah penat letih bersamanya sepanjang tahun, tetapi dia (pembaca doa berkenaan) merosakkan amalan kami dalam masa sesaat (dengan membaca doa tersebut).”


Mengenai kata-kata tersebut, Jamaluddin al-Qasimy telah menerangkan bahawa ianya ini tidak diriwayatkan di dalam sebarang kitab-kitab hadith yang bersanad, dan tidak juga di dalam kitab-kitab hadith maudhu’aat.
(Islahul Masajid: 108).


Maka ia bukan daripada kata-kata Rasulullah صلى الله عليه وسلم
Sebaliknya, apa yang nyata adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم , para sahabat dan para tabiin tidak pernah mengamalkan doa tersebut.
http://binsajen.blogspot.sg/…/doa-awal-tahun-akhir-tahun.ht…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Syaikh Salih bin Abdul Aziz berkata tatkala beliau menyebutkan beberapa bid’ah dan larangan yang berkenaan dengan tauhid :

“Mengadakan perayaan-perayaan yang beraneka ragam dengan maksud taqarrub kepada Allah dengannya.
Seperti :
▬perayaan maulid nabawi,
▬perayaan hijrah (Nabi),
▬perayaan tahun baru hijriah,
▬perayaan Isra` dan Mi’raj, dan yang semisalnya.


▬▬►perayaan ini adalah Bid’ah, karena dia adalah ajang berkumpulnya (manusia) pada amalan-amalan yang dimaksudkan SEBAGAI TAQARRUB kepada Allah.
Sedangkan, tidak boleh bertaqarrub kepada Allah KECUALI dengan apa yang DIA SYARI'ATKAN,

dan Allah tidaklah boleh disembah KECUALI dengan apa yang DIA SYARI'ATKAN.

Maka semua perkara yang baru DALAM AGAMA adalah bid’ah dan semua bid’ah terlarang untuk mengerjakannya”.
[Lihat Al-Minzhor fii Bayani Katsirin minal Akhtho` Asy-Sya`i’ah hal. 17]
Dinukil dari :
Fatawa Seputar Perayaan Tahun Baru (Masehi dan Muharram)
http://al-atsariyyah.com/fatawa-seputar-perayaan-tahun-baru…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Related Topic = Muka bin Tembok = http://binsajen.blogspot.sg/2014/10/muka-tembok.html?m=1
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Related Topic = Spin Sunnah Hasanah = http://binsajen.blogspot.sg/2014/…/spin-sunnah-hasanah.html…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Related Topic = Bid'ah paling banyak di Masjid,
maka itu, mereka yang ada hobby promosi amalan bid'ah mungkar, jika ditegur nasihat, tidak perlu alih perhatian, konon lebih baik tegur orang Islam yang sedang bermaksiat di disko atau tempat jenayah. = http://binsajen.blogspot.sg/…/…/bidah-paling-banyak-di.html…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Related FB Post = https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1486686334940537&id=100007975548945
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dulu Lain Sekarang Lain

Alhamdulillah....
dulu lain.... sekarang lain.... jika niat ikhlas ingin membiasakan yang betul, dan juga sentiasa berlapang dada untuk memperbetulkan yang biasa, dalam hal ibadah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
| DULU & KINI, BID'AH & SUNNAH |
Dulu saya antara orang yang KUAT MELENTING bila Sufi dikata mirip Syiah,
Melenting bila orang mengatakan apa yang dilakukan Sufi itu adalah Bid'ah,
Kecintaan saya pada QASIDAH "CINTA RINDU RASUL" membutakan mata saya, menulikan telinga saya,
Dengan YAKIN & LANTANGNYA pula saya melabel yang membid'ahkan orang sebagai Si Wahhabi,
Tapi bila saya Kaji, Kaji & Terus kaji BERPANDUKAN AL-QUR'AN & SUNNAH,
Ternyata SAYA SILAP besar,
DULU keliru yang mana BID'AH, mana SUNNAH,
Dan SEKARANG, Bila berpegang pada SUNNAH, saya pula yang dilabel sebagai Si Wahhabi...
***
Pengajarannya : Mencari KEBENARAN, HATI kena LAPANG... *Kerana ramai yang mencari kebenaran tapi berhati dan pemikiran SEMPIT, dan mereka TERLEPAS mendapat kebenaran yang dicari...

wALLAHu ta'ala a'lam~

Related FB Post = https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1485141851761652&id=100007975548945
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Related Topic = Akhi Hirmanhttp://binsajen.blogspot.sg/2014/07/akhi-hirman.html
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Related Topic = Buang Current = http://binsajen.blogspot.sg/2014/04/buang-current.html
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Spin Sunnah Hasanah

Eik.! Sunnah Hasanah jadi Bid'ah Hasanah.?!

hmm... konfemlah paling cekap pembohong dan paling mahir putarbelit = pak pandir yang berjubah dan bersarban.

Semoga mereka sempat bertaubat dari mengelirukan orang awam yang jahil perihal ilmu mashalih mursalah.
Ilmu yang sangat baik untuk ostad-ostad seperti Kazim Elias agar bertaubat mengelirukan orang awam
http://binsajen.blogspot.sg/2014/10/mashalih-mursalah.html…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Related FB Post = https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1486118214997349&set=a.1474565619485942.1073741827.100007975548945&type=1&permPage=1

Monday, October 20, 2014

Sufi dan Syi'ah, Bagaikan Pinang Dibelah Dua

BEBERAPA KESAMAAN ANTARA AGAMA SYI'AH DENGAN THARIKAT SUFIYYAH

Siapapun yang mengetahui hakikat tasawwuf (Sufi) dan tasyayyu' (Syi'ah), ia akan mendapatkan keduanya seperti pinang dibelah dua. Keduanya berasal dari sumber yang sama, dan memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu, kedua firqah ini memiliki kesamaan dalam pemikiran dan aqidah. Di antara persamaan dua golongan tersebut ialah sebagai berikut.

Pertama. Kaum Syi'ah mengaku memiliki ilmu khusus yang tidak dipunyai kaum muslimin selain mereka. Mereka menisbatkan kedustaan ini kepada Ahlul bait dengan seenak perutnya. Mereka juga mengklaim memiliki mushaf (Al-Qur`ân) tersendiri, yang mereka sebut Mushaf Fathimah. Menurut keyakinan mereka, mushaf ini memiliki kelebihan tiga kali lipat lebih bagus dibandingkan dengan Al-Qur`ân yang ada di tangan kaum muslimin.[1] Mereka menganggap Muhammad diutus dengan tanzil, sedangkan Ali diutus dengan takwil.[2]

Demikian pula orang-orang Sufi, mereka menganggap memiliki ilmu hakikat. Sedangkan orang dari luar kalangan mereka, hanya baru sampai pada tingkat ilmu syariat. Mereka beranggapan, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’alamenganugerahkan ilmu laduni kepada mereka, saat orang-orang selain mereka mesti menimba ilmu dengan susah payah dari orang-orang para ulama. Bahkan salah seorang tokoh Sufi , yaitu al-Busthami sampai berkoar: "Kami telah menyelam di dalam lautan ilmu, dan para nabi berdiri di tepinya".[3] Demikian, persamaan antara Sufi dan Syi'ah dalam masalah ilmu kebatinan.

Kedua. Orang-orang Syi'ah mengkultuskan imam-imam mereka dan menempatkan imam-imam itu dengan kedudukan yang lebih tinggi dari para malaikat dan para rasul. Mereka mengatakan, kami adalah katub pengaman bagi penduduk bumi sebagaimana bintang-bintang menjadi pengaman bagi penduduk langit. Apabila para imam diangkat dari muka bumi -walaupun sekejap- maka bumi dan para penduduknya ini akan hancur.[4]
Khumaini, salah seorang tokoh Syi'ah berkata: "Di antara keyakinan madzhab kami, bahwasanya imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa diraih, sekalipun oleh para malaikat dan para rasul".[5]
Bahkan orang-orang Syi'ah memberikan sifat ketuhanan kepada para imam itu, dan menganggap mereka mengetahui segala sesuatu, meski sekecil apapun di alam ini.

Sifat seperti ini pula yang disematkan orang-orang Sufi kepada orang-orang yang mereka anggap sebagai wali. Katanya, "para wali" itu ikut berperan dalam pengaturan alam semesta ini, dan mengetahui ilmu ghaib. Oleh karenanya, orang-orang Sufi membentuk suatu badan khusus yang terdiri dari para wali mereka. Tugas badan khusus ini adalah mengatur alam dan seisinya.
Hal ini dinyatakan oleh seorang tokoh Sufi, Ahmad bin Mubarak as-Saljamani al-Maghribi, dalam mensifati badan ini, ia berkata: "Aku mendengar Syaikh 'Abdul 'Aziz ad-Dabbâgh [6] mengatakan,'Badan khusus ini terdapat di Gua Hira yang dahulu dijadikan sebagai tempat berkhalwat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau diutus".[7]

Dia juga beranggapan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi badan khusus tersebut. Jika datang, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di tempat orang yang membutuhkan pertolongan.[8] Kemudian, waktu pengaktifan badan tersebut, ialah saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan, karena –katanya- merupakan waktu yang mustajâbah[9] .

Dengan pernyataan ini, maka tidak tersisa lagi hak pengaturan alam semesta bagi Allah Ta'ala. Padahal, hanya milik Allah Azza wa Jalla hak untuk mencipta dan mengatur segala urusan. Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan.

Ketiga. Anggapan bahwa agama ini memuat perkara zhahir dan batin telah menjadi kesepakatan antara Syi'ah dan Sufiyyah. Menurut mereka, hal yang batin adalah suatu hakikat yang tidak diketahuinya kecuali oleh para imam dan para wali. Sedangkan yang zhahir ialah apa yang terdapat dalam masalah nash-nash yang dipahami oleh orang kebanyakan.

Dr Abu al-'Ala' al-'Afifi menjelaskan dekade munculnya anggapan batil ini merasuki aqidah Islamiyyah dengan berkata: "Munculnya pembagian agama kepada syariat dan hakikat, ialah ketika ada pembagian agama menjadi zhahir dan batin. Pembagian seperti ini tidak dikenal oleh kaum muslimin generasi pertama. Pemikiran seperti ini muncul ketika Syi'ah mengatakan bahwa segala sesuatu ada yang zhahir dan batin, Al-Qur`ân ada yang zhahir dan yang batin. Bahkan menurut anggapan mereka, setiap ayat dan kalimat memuat pengertian zhahir dan yang batin.

Dan hal-hal yang batin ini tidak ada yang bisa mengetahuinya kecuali orang-orang khusus dari para hamba Allah, yang khusus dipilih untuk memperoleh keutamaan ini. Sehingga semua rahasia-rahasia Al-Qur`ân akan terbuka untuk mereka.

Oleh karena itu, mereka memiliki metode khusus dalam menafsirkan Al-Qur`ân yang akhirnya melahirkan berbagai takwil kebatinan terhadap nash-nash Al-Qur`ân dan bisikan-bisikan khayalan mereka, yang dikenal dengan istilah ilmu bathin. Menurut mereka, hasil penafsiran diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada 'Ali bin Abi Thâlib. Lantas diwariskan dari beliau kepada orang-orang yang memiliki ilmu batin yang menamakan diri dengan sebutan al-Waratsah (para ahli waris).

Demikian pula orang-orang Sufi, mereka menempuh jalan takwil ini dalam memahami Al-Qur`ân dan banyak mengambil istilah yang dipakai oleh orang-orang Syi'ah. Dengan demikian, kita mengetahui hubungan yang begitu erat antara orang Syi`ah dengan orang Sufiyyah".[10]

Keempat. Pengagungan terhadap kuburan serta kunjungan-kunjungan ke makam-makam merupakan salah satu dasar akidah Syi'ah. Mereka itulah golongan pertama yang membangun makam-makam dan menjadikannya sebagai syiar.[11] Kemudian muncul orang-orang Sufi yang syiar terbesarnya ialah pengagungan terhadap kuburan, membangun dan menghiasinya, melakukan thawaf (mengelilinginya) untuk meminta berkah dan meminta pertolongan kepada penghuninya.

Bahkan kuburan Ma'rûf al-Kurkhi -salah seorang tokoh Sufi dari kalangan mereka- dijadikan sebagai salah satu obat yang mujarab.[12]

Kelima. Pakaian Sufiyyah. Orang-orang Sufi beranggapan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakaikan satu pakaian kepada 'Ali kemudian 'Ali memakaikan pakaian ini kepada al-Hasan al-Bashri. Dan katanya, dari beliau inilah orang-orang Sufi mengambilnya.[13]

Dr. Kâmil asy-Syaiby telah menulis sebuah kitab yang menjelaskan kuatnya hubungan antara Syi'ah dan Sufiyyah berdasarkan perjalanan sejarah. Kesesuaian antara Syi'ah dan Sufiyyah tidak terbatas pada masalah perkataan dan keyakinan saja, akan tetapi meluas kepada perbuatan sebagaimana ketika mereka bekerjasama dengan musuh untuk menghancurkan Daulah Islamiyyah yang syar'i dan membuka jalan agar musuh bisa masuk ke negeri kaum muslimin, khususnya pada masa kekhilafahan 'Abbasiyyah, mereka berhasil merebut sebagian wilayah kaum muslimin, menyebarkan ajaran zindiq dan ilhad.

Hingga akhirnya Shalahuddin al Ayyubi berhasil menumpas salah satu dari mereka, yaitu kelompok al-Abidiyyah al-Majusiyyah, dan mengembalikan Daulah Islam kepada kaum muslimin.

Juga, ketika kaum muslimin berusaha untuk membersihkan Daulah Islam dari para salibis, ternyata orang-orang Syi'ah Rafidhah, seperti an-Anashir ath-Thusi dan Ibnul-Alqami justru membantu tentara Mongol untuk masuk ke ibukota Daulah Islamiyyah, Baghdad, dan melakukan perusakan serta pembantaian terhadap kaum muslimin.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Musuh-musuh Islam berhasil masuk Baghdad lantaran bantuan dari kaum munafiqin, seperti orang-orang Isma'iliyyah dan Nashiriyyah. Mereka berhasil menguasai negeri Islam, menjadikan para wanita sebagai tawanan, merampas harta, menumpahkan darah. Apa yang dialami oleh kaum muslimin ini, ialah karena bantuan yang diberikan mereka kepada musuh-musuh Islam sehingga terjadi kerusakan, yang Allah Maha Mengetahui besarnya kerusakan tersebut."[14]

Demikian pula yang dilakukan orang-orang Sufiyyah, mereka banyak membantu musuh-musuh Islam untuk merebut negeri Islam dari tangan kaum muslimin. Sebagai contoh, yaitu ketika mereka membantu tentara Perancis saat merebut kota Qairawan. Demikin pula campur tangan mereka, sehingga tentara Perancis bisa menginjakkan kakinya di al-Jazair.

Bahkan salah seorang tokoh mereka, Ahmad at-Tijani berkata: "Sesungguhnya wajib bagi kami untuk membantu tentara Perancis, baik secara materi maupun politik".

Dan banyak peristiwa-peristiwa lainnya yang sangat merugikan kaum muslimin, dan ternyata banyak mendapatkan dukungan, baik dari orang Syi'ah maupun orang-orang Sufiyyah.

Demikian, sebagian titik persamaan antara Syi'ah dan Tharikat Sufiyyah. Sehingga jelaslah bagi kita, bahwasanya mereka berasal dari sumber yang satu.
Untuk itu, wajib baik kita untuk mewaspadainya.

Wallahu a'lam.

(Diringkas dari: al-Jamâ'at al-Islâmiyyah fî Dhau`il Kitâbi was-Sunnah bi-Fahmi Salafil-Ummah, karya Syaikh Salîm bin 'Id al-Hilâli, Dârul Atsariyyah, Tahun 1425H-2004M, halaman 115-127)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XII/1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Related FB Post = https://www.facebook.com/roszmi.osman/posts/687725358002077

Anjing dan Foto

Mengapakah ramai yang sensitif terhadap peliharaan anjing dalam rumah tetapi tidak sensitif terhadap pameran foto dalam rumah.??
 
Mungkinkah mereka tidak sensitif jika rupa anjing dan rupa mereka tiada beza.?
 
Kwang Kwang Kwang !
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)
[Hadits sahih ditakhrij oleh Ibnu Majah dan lihat Shahihul Jami' No. 1961]

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ
”Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat gambar di dalamnya (yaitu gambar makhluk hidup bernyawa)”
[HR. Bukhari 3224 dan Muslim no. 2106]

  •  Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata,
    نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الصُّوَرِ فِي الْبَيْتِ وَنَهَى أَنْ يَصْنَعَ ذَلِكَ
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang adanya gambar di dalam rumah dan beliau melarang untuk membuat gambar.”
  • [HR. Tirmizi no. 1749 dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih]

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,
    اسْتَأْذَنَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلام عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : « ادْخُلْ » . فَقَالَ : « كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ فَإِمَّا أَنْ تُقْطَعَ رُؤوسُهَا أَوْ تُجْعَلَ بِسَاطًا يُوطَأُ فَإِنَّا مَعْشَرَ الْمَلائِكَةِ لا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ
    “Jibril ‘alaihis salam meminta izin kepada Nabi maka Nabi bersabda, “Masuklah.”
  • Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.”
  • [HR. An-Nasai no. 5365. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

    Dalam hadits lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
    اَلصُّوْرَةٌ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ فَلاَ صُوْرَةٌ
    Gambar itu adalah kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak lagi disebut gambar.”
    [HR. Al-Baihaqi 7/270. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 1921]
    Pendapat dari Syaikh Utsaimin Rahimahullah >>
  • Gambar yang mesti dihapus adalah setiap gambar manusia atau hewan. Yang wajib dihapus adalah wajahnya saja.
  • Jadi cukup menghapus wajahnya walaupun badannya masih tersisa.
  • Sedangkan gambar pohon, batu, gunung, matahari, bulan dan bintang, maka ini gambar yang tidak mengapa dan tidak wajib dihapus. Adapun untuk gambar mata saja atau wajah saja (tanpa ada panca indera), maka ini tidaklah mengapa, karena seperti itu bukanlah gambar dan hanya bagian dari gambar, bukan gambar secara hakiki.”
  • [Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 35]

    Via : Mutiara Hadits Pilihan
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    ANJING BUKAN NAJIS
    عَنْ ابن عمر قَالَ كَانَتْ الْكِلَابُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِك. (البخاري)
    Dari Ibnu Umar, berkata: Adalah anjing-anjing kencing, datang dan pergi dalam masjid di zaman Nabi saw tetapi sahabat-sahabat tidak menyiram sedikitpun dari yang demikian itu. (

    HR Al-Bukhariy)

    Daripada Anas bin Malik, katanya: Seorang Arab badwi telah datang lalu dia kencing di satu penjuru masjid. Orang ramai menyergahnya lalu Rasulullah s.a.w melarang mereka berbuat demikian. Apabila dia selesai kencing, baginda menyuruh supaya dituangkan satu timba air di atas tempat itu.
    (Muttafaq ‘alayh)

    Kencing siapa yang lebih najis ????

    Dari Abu Hurairah: Rasulullah saw ditanya tentang telaga-telaga yang ada di antara makkah dan madinah. Ada orang berkata: sesungguhnya anjing-anjing dan binatang buas minum dari telaga itu. Sabda Nabi: bagi binatang-binatang itu apa-apa yang telah diambilnya dalam perut-perutnya, dan bagi kita apa-apa yang tersisa sebagai minuman yang suci.
    (HR Ad-Daraquthiy)
    عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ أُرْسِلُ كِلَابِي الْمُعَلَّمَةَ قَالَ إِذَا أَرْسَلْتَ كِلَابَكَ الْمُعَلَّمَةَ وَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ فَأَمْسَكْنَ فَكُلْ. (صحيح البخاري – (ج 22 / ص 399)

     Dari Adi bin Hatim, ia berkata : Saya bertanya kepada Nabi saw mengenai anjing-anjing yang saya pakai untuk berburu. Beliau menjawab : "Apabila kamu melepaskan anjing berburumu sambil menyebut nama Allah, lalu dia mendapatkan buruan, maka makanlah."
    (HR Al-Bukhariy)

    Related FB Post = https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1485696311706206&id=100007975548945
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    من أمسك كلبا فإنه ينقص كل يوم من عمله قيراط إلا كلب حرث أو ماشية
    “Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan sholehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud), selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak.” Ibnu Sirin dan Abu Sholeh mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
    إلا كلب غنم أو حرث أو صيد
    Selain anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman atau untuk berburu.”
    Abu Hazim mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    كلب صيد أو ماشية
    Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan ternak.” (HR. Bukhari)

    [Bukhari: 46-Kitab Al Muzaro’ah, 3-Bab Memelihara Anjing untuk Menjaga Tanaman = http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-memelihara-anjing.html
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
     

    Saturday, October 18, 2014

    Muka Tembok

     
    Apakah ustaz anda termasuk golongan muka tembok yang mengaku Mazhab Syafi'i tapi Akidah Asy'ari ??
    Kenapa tidak Akidah Syafi'i ??
    Imam Syafi'i Failed subject Akidah eh ??

     ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Ramai yang jadi Pak Turut memfitnah Akidah Salaf dan Akidah 4 Imam sebagai mujassimah,
    akibat mengambil ilmu agama dari ahli bid'ah.

    Hakikatnya, si Pak Turut dan ahli bid'ah ada virus 'Tidak Yakin' dengan Surah 42:11, 112:4,

    "Tiada yang sama/setara/serupa denganNya",

    kemudian merebak penyakit mereka kepada 'Tidak Yakin' dengan ayat,

    "Allah di atas 'ARASY/LANGIT"

    dalam Surah 7:54, 10:3, 13:2, 20:5, 25:59, 32:4, 57:4, 67:16~17,

    kemudian merebak pula penyakit mereka dengan andaian dan soalan merapu, serta mencipta jawapan meracau.

    Semoga Qaul 4 Imam mu'tabar Salafussoleh dapat mengobati penyakit virus mereka yang lebih bahaya dari virus SARS atau MERS. = http://binsajen.blogspot.sg/2014/06/pak-turut.html?m=1
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Related Topic = Penyakit Virus 'Tidak Yakin' = http://binsajen.blogspot.sg/…/penyakit-virus-tidak-yakin.ht…
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Related Topic = Soalan Merapu perihal Sifat Allah = http://binsajen.blogspot.sg/2013/12/pilih-mana-satu.html
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Related FB Post = https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1484621685147002&id=100007975548945

    Mashalih Mursalah

    Ilmu yang sangat baik untuk ostad-ostad seperti Kazim Elias agar bertaubat mengelirukan orang awam = http://binsajen.blogspot.sg/…/itu-bidah-ini-bidah-semua-bid…
     
    *Penjelasan perbedaan antara BID'AH dengan MASHALIH MURSALAH*
    setelah ini semoga terbuka mata hati dan mata dhahirnya kaum muslimin yang terpenuhi dengan syubhat dihati dan pemikirannya tentang kekeliruan masalah bid'ah..
    diantaranya :


    "Dulu Nabi Haji Pake Onta kok kenapa sekarang haji pakai pesawat terbang …?"
    "Muke lu kagak ada dizaman Rasul, muke lu bid'ah tuh..."
    "Dulu adzan ga pake microfon?"
    "Al-Qur'an dijadiin mushaf?"
    "dulu kagak ada pesantren?".. Dan lain-lain...

    Terima kasih atas komen2 tersebut, karna sedikit akan dijelaskan disini tentang perbedaan antara Bid'ah dengan Mashalih Murshalah..

    Bismillaah..
    Banyak yg masih tidak bisa membedakan antara bid'ah dengan maksiat, atau bid'ah dengan mashhalih mursalah. Untuk beda bid'ah dengan maksiat silahkan utek2 postingan saya sebelumnya. Namun yang akan kita bahas kali ini tidak kalah penting, yaitu persamaan dan perbedaan antara bid'ah dan mashalih mursalah.

    Karena tidak bisa membedakan antara bid'ah dan mashalih mursalah, akibatnya banyak yang menggolongkan hal-hal yang merupakan mashalih mursalah ke dalam bid'ah. Demikian pula setiap orang yang mengatakan adanya bid'ah hasanah, pasti ia mencampuradukkan antara bid’ah dengan mashalih mursalah.

    Mereka mengatakan bahwa ada dari kalangan generasi terbaik yang membuat bid'ah:
    1. Mengumpulkan ayat-ayat Al Qur'an menjadi satu mushaf. Padahal ini demi menjaga keaslian Al Qur'an, karena telah banyak penghapal Al Qur'an yang meninggal dunia, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar dan Umar.
    2. Memberi titik dan harakat (garis tanda fathah, kasrah dan dzamma pada huruf-huruf Al Qur’an). Pada zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, Al Qur'an ditulis tanpa titik dan harakat. Pemberian harakat dan titik baru dilakukan pada masa Tabi'in.
    Padahal tujuannya adalah untuk menghindari kesalahan baca yang dapat menimbulkan salah pengertian dan penafsiran.

    3. Membukukan Hadits-hadits Nabi Muhammad sebagaimana yang telah dilakukan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan ahli Hadits lainnya.
    4. Menulis buku-buku tafsir Al Qur'an demi menghindari salah penafsiran dan untuk memudahkan masyarakat memahami Al-Qur'an.
    5. Membuat buku-buku fiqih sehingga hukum agama dapat diterapkan dengan baik dan mudah.
    Sebelum menjelaskan kerancuan klasifikasi di atas, ada baiknya kalau kita mengenal terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan mashalih mursalah itu.

    ==>> DEFINISI MASHALIH MURSALAH <<==
    Istilah di atas merupakan salah satu istilah ushul fiqih yang masyhur, yang tersusun dari dua kata:
    - mashalih ( مَصَالِحٌ ) dan
    - mursalah (مُرْسَلَةٌ).

    Kata yang pertama adalah bentuk jamak dari 'maslahah' (مَصْلَحَةٌ) yang artinya manfaat/kemaslahatan. Sedangkan mursalah artinya yang diabaikan.
    Jadi mashalih mursalah secara bahasa artinya ialah kemaslahatan-kemaslahatan yang diabaikan. Agar lebih jelas, kita harus tahu bahwa setiap kemaslahatan pasti tak lepas dari salah satu keadaan berikut:

    1. Maslahah mu’tabarah (kemaslahatan yang diperhitungkan)
    2. Maslahah mulghaah (kemaslahatan yang dibatalkan)
    3. Maslahah mursalah (kemaslahatan yang diabaikan)
    Maslahah mu'tabarah pengertiannya ialah setiap manfaat yang diperhitungkan oleh syari'at berdasarkan dalil-dalil syar'i. Aplikasi dari maslahah mu'tabarah ini biasanya kita temui dalam masalah qiyas. Misalnya ketika syari'at mengharamkan khamer, sesungguhnya ada suatu alasan yang selalu diperhitungkan dalam hal ini, yaitu sifat memabukkan.
    Rasulullaah bersabda:

    كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَام
    "Setiap yang memabukkan adalah khamer, dan setiap khamer itu haram"
    (H.R. Muslim no 2003).

    Karenanya, segala sesuatu yang memabukkan entah itu makanan, minuman, atau apapun DIHUKUMI SAMA DENGAN KHAMER. Nah, qiyas semacam ini merupakan bentuk pengamalan akan maslahah mu'tabarah.
    (Lihat Mudzakkirah fi Ushulil Fiqh hal 201, oleh Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Al Amin Asy Syinqithy, cet Maktabatul 'Ulum wal Hikam, Madinah Saudi Arabia)
    Karena dengan begitu kita dapat menjaga akal manusia dari segala sesuatu yang merusaknya, yang dalam hal ini adalah khamer.Sedangkan menjaga akal merupakan maslahah yang diperhitungkan oleh syari'at. 


     *CATATAN: Para ulama menyebutkan bahwa misi setiap syari'at (maqashidu asy syari'ah) itu ada lima:
    1. Menjaga dien (agama).
    2. Menjaga jiwa.
    3. Menjaga akal.
    4. Menjaga keturunan.
    5. Menjaga harta. Ada pula yang menambahnya dengan:
    6. Menjaga kehormatan.
    (lihat Al Ihkam, 3/274 oleh Al Aamidy, ta'liq Syaikh Abdurrazzaq Al 'Afify. cet. Al Maktabul Islamy, Al Bahrul Muhith oleh Badruddien Az Zarkasyi, Syarh Al Kaukabul Munier oleh Al Futuhy)

    Kesimpulannya, pengharaman setiap yang memabukkan seperti miras dan narkoba merupakan maslahah mu'tabarah. Sedangkan maslahah mulghaah, ialah kemaslahatan yang dianggap batal oleh syari'at.

    Contohnya ialah maslahat yang terkandung dalam khamer dan perjudian... Allaah berfirman(Yg artinya):
    "Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…"
    (Al Baqarah: 219)


    Allaah menjelaskan dalam ayat ini bahwa khamer dan judi itu mengandung beberapa manfaat bagi manusia, namun demikian hukumnya haram sehingga manfaatnya dianggap batal oleh syari'at Islam. Inilah yang dinamakan maslahah mulghaah.

     Contoh lainnya ialah maslahat mencari kekayaan dengan cara menipu dan manipulasi. Kekayaan di sini merupakan maslahat, akan tetapi caranya bertentangan dengan syari'at, sehingga maslahat yang ditimbulkannya dianggap batal. Demikian pula wanita yang mencari uang lewat melacur umpamanya.

     Adapun maslahah mursalah, maka tak ada dalil dalam syari'at yang secara tegas memperhitungkan maupun membatalkannya. Singkatnya, maslahah mursalah adalah maslahat-maslahat yang terabaikan alias tidak ada dalil khusus yang menetapkan atau menolaknya, namun ia sesuai dengan tujuan-tujuan syari'at.
    (Lihat: Mukhtasar Al I’tisham hal 101 oleh Imam Asy Syathiby)
    Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, kita tahu bahwa sesungguhnya syari'at ditegakkan di atas azas mendatangkan manfaat dan menolak madharat. Karenanya, segala sarana yang bisa mendatangkan manfaat bagi seorang muslim atau menolak madharat darinya, boleh dipakai selama cara tersebut tidak bertentangan dengan syari’at ( Lihat: Al Inshaf, 26-28 )

    Inilah sebenarnya hakekat mashalih mursalah, dan inilah yang sering dianggap BID'AH HASANAH oleh sebagian orang yang tidak paham.
    Masih bingung??

     Oke, untuk lebih jelasnya, saya akan menyebutkan beberapa PERSAMAAN antara bid'ah dan mashalih mursalah:
    1. MASHALIH MURSALAH: Tidak dijumpai di zaman Nabi
    - BID'AH: Tidak dijumpai di zaman Nabi

    2. -MASHALIH MURSALAH: Tidak memiliki dalil khusus yang secara tegas berkaitan dengannya
    - BID'AH: Tidak memiliki dalil khusus yang secara tegas berkaitan dengannya

    Sedangkan PERBEDAAN antara keduanya ialah:
    1. -MASHALIH MURSALAH: Bisa bertambah dan berkurang atau bahkan ditinggalkan sesuai dengan kebutuhan, karena ia sekedar sarana dan bukan tujuan hakiki, alias bukan ibadah yang berdiri sendiri.
    - BID'AH : Bersifat paten dan dipertahankan hingga tidak bertambah atau berkurang, karena ia merupakan tujuan hakiki alias ibadah yang berdiri sendiri dan bukan sarana.

    2. -MASHALIH MURSALAH: Sebab-sebabnya belum ada di zaman Nabi, atau sudah ada tapi ada penghalangnya
    BID'AH: Sebab-sebabnya sudah ada di zaman Nabi dan tidak ada penghalangnya.

    3. -MASHALIH MURSALAH: Tidak mengandung unsur memberatkan, karena tujuan dasarnya ialah mencari kemaslahatan.
    BID'AH: Mengandung unsur memberatkan, karena tujuannya dasarnya untuk berlebihan dalam beribadah.

    4. -MASHALIH MURSALAH: Selaras dengan misi syari'at (maqashidus syari'ah)
    BID'AH: Tidak selaras dengan misi syari'at, bahkan cenderung merusaknya
    (Lihat Qawa'id fi Ma'rifatil Bida', oleh DR. Muhammad Husein Al Jezany)


    Kalau kita merenungi perbedaan-perbedaan di atas, maka kerancuan yang terjadi dalam menentukan mana bid'ah dan mana maslahah mursalah bisa kita hindari.
    Jika salah satu ciri bid'ah di atas kita temukan dalam suatu masalah, maka ketahuilah bahwa ia termasuk bid'ah, demikian halnya dengan mashalih mursalah.
    Kemudian perlu diketahui pula bahwa mashalih mursalah terbagi menjadi tiga:

    -> Dharuriyyah (bersifat darurat),
    -> Haajiyyah (diperlukan), dan
    -> Tahsiniyyah (sekedar tambahan/pelengkap).

    *Contoh yang dharuriyyah ialah pembukuan Al Qur’an dalam satu mushaf.
    *Sedangkan contoh yang haajiyyah ialah membuat mihrab di masjid sebagai petunjuk arah kiblat.
    *Dan contoh yang tahsiniyyah seperti melakukan adzan awal sebelum adzan subuh
    (Ibid, hal 29-30.)


    Nah..dari sini, kita akan menjawab semua yang dianggap bid'ah di atas:

    1. PEMBUKUAN AL-QUR'AN DALAM SATU MUSHAF Hal ini termasuk maslahah mursalah dharuriyyah karena beberapa alasan.
    - Pertama: ia merupakan sarana untuk menjaga keotentikan Al Qur'an dan bukan tujuan hakiki. Karenanya, sekarang Al Qur'an tidak sekedar berwujud mushaf, akan tetapi sudah direkam dalam kaset, CD, dan perangkat elektronik/tekhnologi lainnya.
    -Kedua: kendati sebab-sebabnya ada di zaman Nabi, tapi ketika itu ada yang menghalangi para sahabat untuk membukukannya. Karena ketika itu Al-Qur'an belum turun seluruhnya, dan sering terjadi nasekh (penghapusan hukum atau lafazh ayat tertentu). Padahal alasan untuk membukukan sudah ada, dan sarana tulis-menulis pun ada.
    -Ketiga: Dengan dibukukan dalam satu mushaf, penjagaan akan keotentikan Al-Qur'an jadi lebih mudah. Lebih dari itu, penulisan Al Qur'an dalam satu mushaf merupakan sunnah-nya Khulafa'ur Rasyidin, jadi tidak bisa dikatakan sebagai bid'ah..!!

     Bandingkan dengan bid'ahnya tahlilan, maulidan, isra mi'raj-an, kendurian, selapanan, pamijahan, haulan dan bid'ah2 lainnya yang sering terlihat di kebanyakan masyarakat umpamanya. Maka kita akan temukan:
    - hal tersebut adalah tujuan hakiki, bukan sekedar SARANA (lihat postingan saya sebelumnya) karenanya ia dianggap sebagai ibadah yang berdiri sendiri.

    - sebab-sebab untuk mengadakannya sudah ada di zaman Nabi, dan tidak ada yang menghalangi para sahabat untuk melakukannnya.
    - ia mengandung unsur memberatkan karena sifatnya menambah aktivitas ibadah seseorang.
    - Tidak sesuai dengan misi syari’at dan dalil syar’i, diantaranya firman Allaah yang maknanya: "Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu dalam hatimu dengan khusyu' dan rasa takut, serta dengan TIDAK MENGERASKAN SUARA, baik di pagi maupun petang hari…" (Al A'raf: 205).

    2. PEMBERIAN TITIK DAN HARAKAT PADA HURUF-HURUF AL-QUR'AN.
    hal ini bukanlah bid’ah..! namun termasuk maslahah mursalah dharuriyyah jika dilihat dari tiga sisi.
    - Pertama: ia merupakan cara/wasilah agar orang tak keliru membaca ayat, tapi bukan tujuan hakiki dan ibadah yang berdiri sendiri. Karenanya cara tersebut bisa ditambah/diperlengkap sesuai kebutuhan, seperti tanda-tanda waqaf, saktah, isymam, dan semisalnya.
    - Kedua: sebab-sebabnya belum ada di zaman Nabi karena para sahabat semuanya fasih dalam berbahasa Arab, sehingga mereka tak perlu pakai titik dan harakat dalam membaca teks Arab, apalagi sebagian besar mereka masih mengandalkan kekuatan hafalan daripada tulis-menulis. Ketika banyak orang 'ajam (non Arab) yang masuk Islam, otomatis mereka tak mampu membaca huruf Arab yang gundul tanpa titik dan harakat tadi. Maka diberilah tanda-tanda tertentu sebagai pedoman membaca.
    - Ketiga: tujuannya jelas untuk mempermudah membaca Al Qur'an untuk siapa saja.

    3. MEMBUKUKAN HADITS-HADITS NABI.
    Ini pun termasuk maslahah mursalah dharuriyyah karena beberapa hal.
    - Pertama: ia merupakan sarana untuk mengumpulkan dan mengabadikan hadits Nabi, dan bukan ibadah yang berdiri sendiri. Karenanya metode yang digunakan pun berubah-ubah sesuai kebutuhan.
    * Ada yang mengumpulkan berdasarkan nama sahabat yang meriwayatkannya (seperti kitab-kitab musnad), ada pula yang berdasarkan topik-topik tertentu dengan hanya memasukkan yang shahih saja (disebut Jaami’, seperti Al Jaami’us Shahih atau Shahih Bukhari dan Shahih Muslim). Ada lagi yang khusus berkenaan dengan masalah fiqih (disebut Sunan, seperti Sunan Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah, dll), dan seterusnya.
    Nah, ini menandakan bahwa penyusunnya tidak mempertahankan model tertentu tapi sewaktu-waktu dapat ditinggalkan.

    - Kedua: belum ada sebab-sebab yang mendorong hal itu di zaman Nabi. Karena saat itu belum ada pemalsuan hadits, dan periwayatan hadits berada di tangan orang-orang yang jujur dan terpercaya. Namun ketika terjadi fitnah antara Ali dan Mu'awiyah, para pendukung dari masing-masing golongan mulai berani memalsukan hadits/berkata atas nama Rasulullah dengan tujuan mengunggulkan pemimpin/golongan masing-masing, tambah lagi periwayatan hadits pun semakin meluas dan mencakup setiap golongan, baik yang jujur dan kuat hafalannya, maupun yang pendusta dan sering lupa. Karenanya para ulama terdorong untuk membukukan hadits dan menjelaskan derajat hadits tersebut.
    -Ketiga: tujuannya jelas untuk mendekatkan kaum muslimin kepada Sunnah Rasulullah agar mudah dibaca dan diamalkan. Lebih-lebih dengan memperhatikan sifat maslahah mursalah yang disyaratkan, harus sesuai dengan tujuan-tujuan syari'at.
    Jelas sekali bagi kita bahwa meski kesemuanya ini tidak memiliki dalil khusus yang menetapkan maupun menolaknya, namun semuanya selaras dengan misi syari'at yang antara lain bertujuan MENJAGA dien.
    Demikian juga masalah lainnya yang kebanyakan orang salah memahami mana bid'ah dan mana mashlahah mursalah. Itu semua termasuk maslahah mursalah yang berkisar antara dharuriyyah atau haajiyyah, dan tidak ada kaitannya dengan bid'ah hasanah kalau kita terapkan penalaran tadi.
    Contoh lain dari maslahah mursalah yang sering dianggap bid'ah ialah penggunaan mikrofon dan karpet di masjid-masjid, berangkat haji dengan pesawat terbang, makan pake dengan sendok dan garpu, cara berpakaian, bahkan salah satu yang ga masuk diakal dan jahil murakab adalah muka yg tidak ada di zaman Rasul pun dikait-kaitkan dengan bid'ah, dan sebagainya. Mereka yang menganggapnya bid’ah coba deh hendaknya samain dengan yang namanya tahlilan, maulidan, peringatan 7 harian, 40 harian, 100 harian, kendurian, haul, dan bid’ah-bid’ah lainnya.
    Sehingga kita jadi serba susah kalau ingin membid'ahkan hal-hal semacam ini. Untuk itu mari kita bahas permasalahan ini dengan menerapkan kaidah pembeda antara bid'ah dengan maslahah mursalah.


    4. PENGGUNAAN MIKROFON DI MASJID-MASJID.
    Hal ini sama sekali bukan bid’ah secara syar'i, why? mengapa?
    - Pertama: karena mikrofon hanyalah sarana untuk memperluas jangkauan adzan, ceramah, dan sebagainya. Dan alasan ini didukung oleh syari'at. Buktinya ialah disunnahkannya memilih muadzin yang bersuara lantang. Ini jelas menunjukkan bahwa ia sekedar sarana dan bukan ibadah yang berdiri sendiri. Artinya tidak ada seorang pun yang meyakini bahwa dengan menggunakan mikrofon PAHALANYA AKAN BERTAMBAH. Begitu pula kalau sekali waktu mikrofon itu ngadat, toh aktivitas tetap berjalan tanpa kurang suatu apa, karena ia tak lebih dari sekedar 'ALAT'.
    - Kedua: alat seperti ini belum ada di zaman Rasulullaah, karenanya keberadaannya sekarang bukanlah bid'ah secara syar’i.
    - Ketiga: ia bertujuan mempermudah, bukan memberatkan.

    5. BERANGKAT HAJI DENGAN PESAWAT TERBANG
    Bagi saya ini pemikiran yang aneh tapi nyata, pernyataan yg unik tapi tidak langka. Karena hal ini juga sering diidentikkan dengan bid'ah. Tentunya dengan logika yang DANGKAL pun kita bisa membantahnya…
    Lah,, Memang apa sangkut-pautnya antara ibadah haji dan kendaraan yang kita naiki?

    Adakah seseorang meyakini bahwa dengan naik pesawat hajinya jadi lebih mabrur?
    Tentu tidak...!
    Ia tak ubahnya seperti orang yang berangkat shalat jum'at dengan naik mobil, sepeda motor, becak, atau kendaraan lainnya. Sama sekali tak terbetik dalam benaknya bahwa kendaraan yang ia tumpangi memberikan nilai plus terhadap ibadahnya. Apa lagi kalau dilihat dari segi sebabnya, jelas di zaman Nabi belum ada sebab-sebab terwujudnya pesawat terbang. Demikian pula dengan fungsinya yang hanya sebagai sarana transportasi belaka. Juga dari sifatnya yang mengikuti perkembangan teknologi. Kalau dahulu kaum muslimin berangkat haji dengan mengendarai unta atau berjalan kaki, kemudian terus berkembang hingga kira-kira di awal abad 20 mulai digunakan kendaraan bermotor dan kapal laut, maka saat ini mereka menggunakan pesawat terbang. Entah kendaraan apa yang akan digunakan seabad kemudian…
    Adapun cara makan, jika dilakukan dengan menyerupai orang kafir, atau berangkat dari keyakinan tertentu seperti menghindari jenis makanan tertentu yang dihalalkan dengan alasan niat taqarrub kepada Allah, padahal tidak ada anjuran untuk itu, maka ia termasuk bid’ah. Namun jika tidak demikian maka tidak termasuk bid’ah.
    Demikian pula dengan cara berpakaian, ia tidak bisa dikategorikan sebagai bid’ah selama tidak menyerupai orang kafir, atau dilakukan cara tertentu yang tidak berdasar kepada dalil tapi diiringi i'tikad bahwa hal tersebut dianjurkan dalam Islam.

    Lalu bagaimana membantah syubhat orang yg berkata "Muke ente kagak ada di zaman Rasul, muke ente bi'dah"..Jika kita sudah banyak menjelaskan tapi masih mendapati orang yg berkata seperti itu, maka tidak perlu dijawab..cukup tersenyumlah, senyum dan senyum. Karena itu adalah komen yg menghibur...
    Wallaahu A'lam
    Sahabatmu Nizam
    Related FB Post = https://www.facebook.com/profile.php?id=100007975548945&fref=photo